August 19, 2008
Sorghum dengan Teknik Nuklir untuk Bioetanol Etanol
Salah satu pakan ternak, sorghum, sedang dikembangkan dengan teknik nuklir untuk menghasilkan energi bioetanol. Saat ini, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) sedang mengajukan pada Departemen Pertanian agar pemuliaan bibit yang telah diteliti dapat dilepas menjadi varietas baru.
Sorghum merupakan tanaman serelia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan yang kering di Indonesia. Keunggulan sorghum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, dan produksi yang tinggi.
Tanaman sorghum juga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Di banyak negara, sorghum merupakan bahan baku industri etanol, bir, anggur minuman (wine), sirup, lem, dan cat. Di Amerika Serikat, India, dan Cina, sorghum digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar bioetanol.
"Batan telah melakukan penelitian pemuliaan sorghum dengan teknik nuklir untuk memperbaiki hasil atau kualitas sorghum. Sejumlah galur tanaman unggul telah dihasilkan, di antaranya galur ZH-30 yang cocok untuk pangan, serta galur B-76 dan B-100 untuk memproduksi bioetanol," ujar peneliti pemuliaan tanaman pertanian Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (Patir) Batan Soeranto Human pada simposium nasional dan pameran teknologi 50 tahun Batan di Jakarta, Selasa (5/8).
Menurut Soeranto, penelitian tersebut diarahkan untuk lahan-lahan yang marjinal, kering, atau lahan masam (ph 4,2), serta lahan-lahan di wilayah pantai dengan tingkat keasinan tinggi. Uji coba untuk mengetahui tingkat kecocokan tanaman sorgum dilaksanakan di wilayah-wilayah tertentu. "'Karena tak mungkin ditanam di lahan subur yang nantinya akan bersaing dengan tanaman pokok lainnya," jelasnya.
Untuk lahan kering, kata Soeranto, bisa dilakukan di wilayah Gunung Kidul dan Bantul, Jawa Tengah. "Juga lahan masam di Lampung dan Kalimantan Timur, dan lahan dengan kadar asin air tinggi di wilayah Pantai Pandansimo, Yogyakarta," ungkapnya.
Lebih jauh Soeranto menyatakan, bibit yang dikembangkan, berasal dari dari pusat riset di India, yang khusus dikirim dalam jumlah 200 jenis untuk dikembangkan di Indonesia. "Kami mengubah genetik tanaman tersebut menggunakan sinar gamma bersumber dari cobalt 60 di level kromosom, genom (DNA). Hingga terpilih bibit yang sesuai dengan kondisi lahan tersebut," cetusnya.
Kapasitas produksi sorghum per hektare mampu mencapai 7-8 ton biji saat musim kemarau. Namun, untuk kondisi iklim normal rata-rata sekitar tiga hingga empat ton per hektare selama musim tanam tiga bulan. "Jangka waktunya lebih pendek dibanding tebu yang memiliki masa tanam hingga delapan bulan," jelasnya.
Tak hanya itu, kata Soeranto, saat panen, tanaman sorghum tak perlu dicabut, namun tinggal dipotong dahannya, kemudian akan tumbuh lagi. "Tanaman sorghum merupakan tanaman masa depan atau sustainable farming, karena tidak menguras unsur hara dalam tanah," ingatnya.
Sementara, pengembangan sorghum menjadi energi dikerjakan Batan bersama PT Banyu Lancar Unggul Engineering (BLUE). "Etanol bisa dibuat dari batang sorghum yang diperas dan difermentasi menjadi etanol atau dari biji, namun prosesnya lebih panjang," ujar Direktur PT BLUE, Johan Susilo.
Awalnya, PT BLUE mengembangkan bahan bakar nabati dari CPO dan Jatropha curcas untuk memproduksi biodiesel. Produk tersebut telah diujicoba di Lemigas untuk mesin-mesin diesel milik PLN wilayah Kalimantan Timurpada 2007. Hingga kemudian, mengembangkan etanol berbahan dasar aren, singkong, termasuk sorghum.
Menurut Johan, kapasitas produksi pabrik dari 0,5 ton per hari hingga lima ton perhari mampu menghasilkan etanol dengan kadar 99,9 persen (untuk bahan bakar), 60-97 persen (untuk farmasi), dan 90-98 persen (untuk kebutuhan pembakaran mesin). "Produk ethanol untuk bahan bakar telah diuji di Balai Besar Teknologi Pati BPPT Bandar Lampung. Bahkan, digunakan dalam roadshow Tim Nasional Bahan Bakar Nabati sekitar Juli tahun lalu," ujarnya.
PT Blue juga memproduksi kompor berbahan bakar etanol. "Prospeknya bagus, karena bahan bakar etanol nantinya akan lebih murah dibanding minyak tanah," jaminnya.
Namun demikian, untuk memenuhi persyaratan industri, diperlukan bioetanol dengan hasil hingga 3000-5000 liter etanol per hektare. "Kami masih mengalami kendala dalam perbanyakan bibit," ujarnya.
Proses pengolahan etanol bersumber batang sorghum dengan cara diperas untuk mendapatkan nira, kemudian melalui proses destilasi hingga diperoleh etanol. "Butuh batang 16-20 kg untuk menghasilkan satu liter etanol," jelasnya. (Republika)
Trackback uri


Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.